Sabtu, 24 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
bpatekphilippe.combpatekphilippe.com
bpatekphilippe.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › 4 Kebiasaan Ortu di Kampung yang Diam-Diam Bikin A...

4 Kebiasaan Ortu di Kampung yang Diam-Diam Bikin Anak Jauh

Tanpa sadar, kebiasaan sehari-hari di rumah justru bikin anak menjauh. Ini 4 kesalahan yang sering terjadi dan cara menghindarinya.

4 Kebiasaan Ortu di Kampung yang Diam-Diam Bikin Anak Jauh

Gue pernah ngobrol sama tetangga di kampung, seorang bapak yang udah punya anak SMP. Dia cerita kalau anaknya sekarang jarang ngomong di rumah. Pulang sekolah langsung masuk kamar, makan pun buru-buru. Si bapak bingung, padahal dia ngerasa udah kasih semua yang anaknya butuh — motor, HP baru, uang jajan cukup.

Tapi pas gue tanya, kapan terakhir kali dia duduk bareng anaknya cuma buat ngobrol tanpa bahas nilai atau uang, dia diem lama. Nah, di situlah masalahnya. Kadang yang bikin anak jauh bukan soal fasilitas, tapi kebiasaan kecil yang kita anggap wajar. Di kota kecil dan desa, beberapa kebiasaan ini malah lebih kental karena pola asuh turun-temurun dari zaman ortunya dulu.

1. Nanya Anak Cuma Soal Nilai dan Uang

Ini yang paling sering. Begitu anak pulang, pertanyaan pertama: "Dapat nilai berapa?" atau "Uang jajan udah habis?" Nggak salah sih, tapi kalau itu satu-satunya topik, anak bakal ngerasa di rumah cuma diinterogasi.

Coba ingat lagi, kapan terakhir kamu nanya anak soal hal yang dia suka? Temennya siapa, game apa yang lagi ramai, atau kenapa dia kelihatan murung hari ini. Anak itu bukan rapor berjalan. Dia manusia yang pengin didengar, bukan cuma dinilai.

Baca juga: 5 Hal yang Aku Pelajari Soal Keluarga Setelah Jadi Ibu Rumah Tangga

Gue pernah baca cerita seorang guru di desa yang bilang, murid-muridnya lebih terbuka cerita ke wali kelas daripada ke ortunya sendiri. Bukan karena ortunya jahat, tapi karena di rumah nggak pernah ada ruang buat cerita hal-hal receh. Padahal justru dari hal receh itu kita bisa tahu isi kepala anak.

2. Membandingkan Anak dengan Anak Lain

"Lihat tuh anak Bu RT, nilainya bagus terus." Kalimat ini kelihatan sepele, tapi efeknya nempel lama. Apalagi di kampung, semua orang kenal semua orang, jadi perbandingan kayak gini gampang banget muncul — di meja makan, di acara arisan, bahkan di depan tetangga.

Masalahnya, anak nggak belajar jadi lebih baik dari perbandingan. Yang dia pelajari cuma satu: dia belum cukup. Dan kalau itu diulang terus, lama-lama dia males berusaha karena ngerasa usahanya nggak pernah dihargai.

"Anak yang terus dibandingkan nggak tumbuh jadi kompetitif, tapi tumbuh jadi orang yang nggak percaya sama dirinya sendiri."

Kalau mau anak maju, bandingkan dia dengan dirinya sendiri kemarin. "Bulan lalu kamu masih kesulitan di matematika, sekarang udah lebih paham." Itu jauh lebih nendang daripada nyebut nama anak orang lain.

3. Sibuk Sendiri, tapi Minta Anak Nggak Main HP

Ini lucu kalau nggak sedih. Bapak main HP sambil rebahan, ibu scroll-scroll sambil masak, tapi begitu anak pegang HP langsung dimarahin. Anak itu peniru ulung, bukan pendengar yang patuh. Apa yang dia lihat tiap hari, itu yang dia anggap normal.

Gue bukan mau bilang orang tua nggak boleh pegang HP. Kita juga butuh hiburan, apalagi setelah kerja seharian. Tapi kalau mau anak mengurangi layar, ya kita juga harus ikut mengurangi. Nggak fair kalau aturannya cuma buat anak.

Coba bikin aturan bareng-bareng, misalnya setelah magrib HP masuk keranjang semua — termasuk punya bapak ibu. Awalnya bakal canggung, anak mungkin protes. Tapi lama-lama jadi kebiasaan yang bikin rumah lebih hidup. Di kampung yang sinyalnya kadang susah ini, justru kesempatan bagus buat balik ngobrol sama keluarga.

4. Nunda Ngobrol karena "Masih Kecil" atau "Nanti Aja"

Banyak ortua di kampung ngerasa anak kecil nggak perlu diajak ngobrol serius. "Ah, dia belum ngerti." Padahal anak ngerti lebih banyak dari yang kita kira. Yang dia nggak ngerti itu cara menyampaikan perasaannya, dan itu tugas kita buat ngajarin.

Ada juga yang mikir, "Nanti kalau udah gede baru dibahas." Masalahnya, nanti itu nggak pernah datang. Anak tumbuh, jarak makin lebar, dan tiba-tiba kita sadar udah nggak tahu apa yang dia pikirkan.

Cara kecil yang bisa mulai hari ini

Nggak perlu langsung revolusi pola asuh. Mulai dari hal paling sederhana:

  • Pas anak pulang, tanya satu hal yang bukan soal sekolah — misalnya "Hari ini ada yang bikin ketawa nggak?"
  • Sisihkan 10 menit sebelum tidur buat dengerin anak cerita, tanpa motong dan tanpa nasihat.
  • Kalau mau marah, tanya dulu "kenapa" sebelum nyalahin.
  • Beri pujian spesifik, bukan cuma "pintar" atau "bagus" — sebut apa yang dia lakuin dengan benar.

Gue sendiri pernah salah di poin nomor tiga. Dulu gue mikir anak yang diem itu anak yang nurut. Ternyata dia diem karena ngerasa nggak ada gunanya ngomong. Butuh waktu lama buat gue sadar dan benerin, dan itu nggak instan. Kadang anak masih sungkan cerita, tapi pelan-pelan dia mulai buka diri lagi.

Yang perlu diingat, nggak ada ortua yang sempurna. Kita semua pernah salah, dan itu wajar. Yang bikin beda adalah apakah kita mau berhenti sebentar, lihat kebiasaan kita sendiri, dan coba benerin sedikit-sedikit. Anak nggak butuh ortua yang nggak pernah salah — dia cuma butuh ortua yang mau berubah ke arah yang lebih baik.

Jadi sebelum nyalahin anak yang makin jauh, coba cek dulu empat kebiasaan di atas. Mungkin salah satunya ada di rumah kamu tanpa kamu sadari.

Tags: pola asuh hubungan keluarga komunikasi anak parenting desa kesalahan orang tua