Senin, 5 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
bpatekphilippe.combpatekphilippe.com
bpatekphilippe.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Anak Rewel di Apartemen? Jawaban Jujur untuk Orang...

Anak Rewel di Apartemen? Jawaban Jujur untuk Orang Tua Muda di Kota

Hidup di kota besar bikin pola asuh beda. Ini jawaban jujur untuk pertanyaan yang paling sering ditanyakan orang tua muda.

Anak Rewel di Apartemen? Jawaban Jujur untuk Orang Tua Muda di Kota

Gue masih inget banget momen ketika tetangga sebelah ngetok pintu apartemen jam 9 malam. Bukan buat ngajak kenalan, tapi buat ngeluh karena anak gue nangis kenceng banget. Waktu itu gue cuma bisa minta maaf sambil dalem hati ngerasa gagal jadi orang tua. Kalau kamu pernah ngalamin hal serupa, artikel ini buat kamu.

Hidup di kota besar kayak Jakarta, Surabaya, atau Bandung punya aturan main sendiri soal ngasuh anak. Nggak ada halaman luas, nggak ada tetangga yang bisa dititipin anak sebentar, dan yang paling parah: nggak ada waktu. Jadi wajar kalau pertanyaan-pertanyaan soal parenting yang muncul di grup WhatsApp keluarga muda itu beda banget sama yang dihadapi orang tua di kampung.

Sebenernya, kenapa sih anak di kota gampang banget rewel?

Ini pertanyaan yang paling sering muncul. Dan jawabannya nggak sesederhana "anaknya manja" atau "orang tuanya kurang sabar".

Anak yang tumbuh di apartemen atau rumah cluster kecil itu jarang dapet ruang buat gerak bebas. Mereka main di ruang tamu yang sama setiap hari, ketemu orang yang sama, lihat pemandangan yang sama. Otak anak butuh stimulasi baru terus-terusan. Kalau nggak dapet, ya mereka cari perhatian dengan cara apapun — termasuk nangis kenceng atau bikin ulah.

Gue pernah baca riset dari American Academy of Pediatrics yang bilang anak butuh minimal 3 jam aktivitas fisik ringan sampai sedang setiap hari. Coba hitung, berapa banyak anak kota yang dapet itu? Kebanyakan cuma main di dalam ruangan sambil pegang iPad. Bukan salah mereka, memang lingkungannya yang nggak mendukung.

"Anak rewel itu bukan masalah disiplin. Seringnya masalah ruang dan waktu yang nggak pernah kita kasih ke mereka."

Kalau gitu, apa yang bisa kita lakuin tanpa harus pindah ke pinggiran kota?

Gue dan istri udah coba macem-macem. Ada yang berhasil, ada yang cuma buang-buang duit. Ini beberapa yang menurut gue worth banget buat dicoba.

1. Bikin "zona bebas" di rumah sekecil apapun

Nggak perlu taman. Cukup satu sudut ruangan yang dikasih karpet tebal, beberapa bantal, dan mainan yang bisa dieksplor. Kuncinya: sudut itu harus konsisten dan anak tahu itu wilayah dia. Anak yang punya "wilayah" sendiri biasanya lebih tenang karena mereka ngerasa punya kontrol atas satu hal di hidupnya.

2. Manfaatkan RPTRA atau taman kota minimal 3x seminggu

Ruang Publik Terpadu Ramah Anak yang ada di banyak kelurahan Jakarta itu underrated banget. Gratis, ada playground, dan anak bisa ketemu anak lain. Gue tahu rasanya capek pulang kerja terus harus ngajak anak keluar lagi. Tapi percaya deh, 45 menit di taman itu efeknya lebih gede daripada 3 jam di rumah sambil nonton YouTube.

3. Rutinitas yang konsisten, bukan jadwal yang kaku

Banyak orang tua salah paham soal rutinitas. Mereka bikin jadwal per menit, terus stres sendiri kalau meleset. Padahal yang anak butuh itu urutan, bukan jam. Mandi → makan → cerita → tidur. Nggak peduli jam berapa, yang penting urutannya sama. Ini ngasih rasa aman yang anak kota sering banget kehilangan.

Gimana dengan pasangan? Kok kayak kita makin jauh aja?

Nah, ini yang jarang dibahas tapi paling sering dirasain. Setelah punya anak, banyak pasangan di kota berubah jadi kayak rekan kerja yang berbagi shift. Pagi urus anak, siang kerja, malam urus anak lagi, terus tidur. Selesai.

Gue ngalamin sendiri. Selama setahun pertama, gue dan istri hampir nggak pernah ngobrol yang bukan tentang anak. Bukan karena nggak cinta, tapi karena energi udah habis. Dan ini bahaya. Anak yang tumbuh di keluarga di mana orang tuanya kayak stranger itu efeknya panjang banget.

Yang gue pelajarin: nggak perlu date night mewah. Yang perlu itu micro-moment. 10 menit ngobrol berdua sambil minum kopi sebelum anak bangun. Atau chat singkat di siang hari yang isinya bukan "udah makan belum?" tapi "gue kangen kamu". Kedengeran cheesy, tapi works.

Terus, gimana caranya ngatur layar (screen time) tanpa drama?

Ini pertanyaan kedua yang paling sering muncul di grup parenting. Dan jawabannya nggak populer: kamu nggak bisa menghilangkan layar sepenuhnya. Apalagi kalau kamu kerja dari rumah dan butuh anak tenang selama meeting.

Yang bisa kamu lakuin adalah bikin aturan yang realistis. Misalnya: layar cuma boleh setelah mandi sore, maksimal 45 menit. Atau layar cuma boleh di akhir pekan. Yang penting: konsisten. Anak akan protes di awal, tapi lama-lama mereka ngerti.

Yang lebih penting lagi: kamu juga harus ikut aturan itu. Percuma ngelarang anak main HP sementara kamu sendiri scroll Instagram sepanjang makan malam. Anak itu peniru ulung. Mereka nggak dengerin apa yang kita bilang, mereka lihat apa yang kita lakuin.

Jadi, apa yang sebenernya paling penting?

Kalau gue harus rangkum semua yang gue pelajarin selama jadi orang tua di kota: hadir itu lebih penting daripada sempurna.

Kamu nggak perlu punya rumah besar, mainan mahal, atau jadwal yang perfect. Kamu nggak perlu jadi orang tua yang selalu sabar. Yang anak butuh cuma tahu bahwa mereka penting buat kamu. Bahwa di tengah semua kekacauan hidup di kota, ada dua orang yang bakal selalu ada buat mereka.

Dan kalau hari ini terasa berat, inget aja: tetangga yang ngetok pintu itu mungkin cuma butuh denger "maaf ya, lagi fase susah". Kadang-kadang, jadi orang tua di kota itu bukan soal ngasuh anak doang, tapi juga soal ngasuh diri sendiri dan hubungan kita sama pasangan. Pelan-pelan aja. Nggak ada yang harus selesai hari ini.

Tags: parenting keluarga muda pola asuh hidup di kota anak