Kamis, 5 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
bpatekphilippe.combpatekphilippe.com
bpatekphilippe.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Tiap Pagi Ribut soal Sepatu, Ternyata Ini Pola Asu...

Tiap Pagi Ribut soal Sepatu, Ternyata Ini Pola Asuh yang Salah

Banyak orang tua di kota besar tanpa sadar mengulang kesalahan pola asuh yang sama tiap hari. Ini yang perlu diubah.

Tiap Pagi Ribut soal Sepatu, Ternyata Ini Pola Asuh yang Salah

Gue pernah ngalamin pagi yang kacau banget. Jam 06.15, anak gue masih nyari sepatu, seragam belum disetrika, dan gue udah teriak-teriak kayak peluit wasit. Setelah semuanya berangkat, gue duduk di dapur, ngopi, dan mikir: kok rasanya tiap hari skenarionya sama ya?

Kalau kamu tinggal di keluarga kecil di kota besar, kemungkinan besar kamu juga kenal rasa itu. Dua orang tua kerja, satu atau dua anak, waktu sempit, dan tekanan hidup yang nggak pernah benar-benar berhenti. Di tengah semua itu, kita sering nggak sadar kalau yang bikin rumah terasa berat bukan cuma jadwal, tapi pola asuh yang kita ulang terus tanpa pernah dievaluasi.

Nah, ini beberapa kesalahan yang paling sering gue lihat — dan yang gue sendiri pernah lakuin — plus cara menghindarinya.

Baca juga: 5 Cara Hemat Biaya Asuh Anak Tanpa Bikin Hasilnya Asal-Asalan

Terlalu Banyak Aturan, Terlalu Sedikit Contoh

Kita suka banget bikin aturan. Nggak boleh main HP sebelum makan. Nggak boleh teriak-teriak. Nggak boleh ini, nggak boleh itu. Tapi coba deh jujur: berapa banyak dari aturan itu yang kita sendiri langgar di depan anak?

Anak itu pembelajar visual yang brutal jujurnya. Mereka nggak dengerin apa yang kita omongin, mereka lihat apa yang kita lakuin. Kalau kita bilang "jangan main HP terus" sambil kita sendiri scroll TikTok selama makan malam, ya anak bakal bingung. Atau lebih tepatnya, mereka bakal belajar bahwa aturan itu cuma buat anak kecil, bukan buat orang dewasa.

Cara menghindarinya simpel tapi nggak gampang: kurangi jumlah aturan, perbanyak contoh. Pilih dua atau tiga aturan inti yang benar-benar penting buat keluarga kamu, lalu pastikan orang tua juga ikut main. Kalau aturannya "nggak ada HP di meja makan", ya HP semua orang ditaruh di keranjang. Termasuk punya kamu.

Anak nggak butuh orang tua yang sempurna. Mereka butuh orang tua yang konsisten.

Ngobrol Cuma soal Tugas dan Jadwal

Ini kesalahan yang paling halus dan paling sering nggak kelihatan. Coba inget-inget, apa aja yang kamu omongin sama anak kemarin? Kalau jawabannya seputar "PR udah?", "Mandi dulu", "Besok les jam berapa", berarti kamu nggak sendirian. Banyak orang tua di kota besar terjebak jadi manajer proyek buat anak sendiri.

Masalahnya, komunikasi yang cuma soal logistik lama-lama bikin anak ngerasa hubungan kita transaksional. Mereka ngerasa diurus, tapi nggak ngerasa dikenal. Dan begitu masuk usia remaja, biasanya mereka berhenti cerita apa-apa karena memang nggak pernah dilatih ngobrol soal hal yang nggak penting.

Coba mulai dari pertanyaan receh

Nggak perlu langsung tanya "gimana perasaanmu hari ini" — itu terlalu berat dan anak bakal jawab "biasa aja". Mulai dari yang ringan: "Tadi di sekolah ada yang lucu nggak?" atau "Kalau kamu bisa makan satu makanan aja seumur hidup, pilih apa?" Pertanyaan aneh kayak gini sering malah buka pintu obrolan yang lebih dalam. Gue udah coba sendiri dan hasilnya kadang bikin ketawa, kadang bikin gue kaget.

Ngejar Hasil, Lupa Proses

Kota besar itu kompetitif, dan tekanan itu nular ke rumah. Nilai harus bagus, ranking harus naik, les ini itu harus diikuti. Nggak ada yang salah dengan punya ekspektasi, tapi masalahnya muncul waktu kita cuma merhatiin hasil akhir dan lupa ngeliat usahanya.

Anak yang pulang bawa nilai 70 setelah belajar keras semalaman itu ceritanya beda sama anak yang bawa nilai 70 karena nggak buka buku sama sekali. Kalau reaksi kita sama, anak belajar bahwa usaha nggak penting. Yang penting angka.

Cara menghindarinya: biasakan nanya prosesnya dulu sebelum nanya hasilnya. "Bagian mana yang paling susah?" atau "Kamu udah coba cara apa aja?" Pertanyaan begini bikin anak ngerasa usahanya dihargai, bukan cuma outputnya. Dan jangka panjangnya, ini yang bikin mereka mau terus belajar walau nggak ada yang ngasih nilai.

Nggak Pernah Minta Maaf

Ini yang paling gue tekankan, karena gue dulu termasuk orang tua yang gengsi minta maaf ke anak. Kayak ada semacam anggapan bahwa minta maaf bikin wibawa orang tua jatuh. Padahal kenyataannya kebalikannya.

Kalau kamu teriak karena kesel, lalu sadar itu berlebihan, bilang aja: "Tadi Papa/Mama teriak, itu nggak seharusnya. Maaf ya." Sesimpel itu. Nggak perlu pidato panjang. Anak bakal belajar dua hal sekaligus: bahwa orang dewasa juga bisa salah, dan bahwa memperbaiki kesalahan itu normal.

Gue inget banget pertama kali gue minta maaf ke anak gue yang waktu itu umur tujuh tahun. Dia diem sebentar, terus bilang "iya, nggak apa-apa." Besoknya, dia ngelakuin hal yang sama ke temannya yang dia sakiti. Nggak ada ceramah yang bisa ngegantiin contoh langsung kayak gitu.

Lupa Kalau Orang Tua Juga Butuh Jeda

Satu lagi yang sering kelewat: kita ngurus anak kayak mesin yang nggak boleh berhenti. Padahal capek itu nyata, dan capek yang numpuk gampang banget berubah jadi bentakan yang nggak perlu.

Kalau kamu tinggal di kota besar dengan ritme kerja kayak sekarang, coba jadwalin jeda kecil yang benar-benar milik kamu sendiri. Nggak perlu liburan mahal. Setengah jam di pagi hari sebelum anak bangun, atau jalan kaki sendirian sepulang kerja, kadang cukup buat ngembaliin kesabaran yang tadi habis di jalan.

Dan kalau punya pasangan, bagi tugas dengan jujur. Bukan bagi tugas yang "adil" di atas kertas, tapi yang benar-benar bikin dua-duanya punya ruang napas. Rumah yang orang tuanya nggak kehabisan tenaga jauh lebih tenang daripada rumah yang semua jadwalnya rapi tapi penghuninya pada sekarat.

Mulai dari Satu Perubahan Kecil

Nggak usah langsung ubah semuanya minggu ini. Pilih satu hal aja: mungkin berhenti main HP di meja makan, atau nanya satu pertanyaan receh tiap hari, atau minta maaf sekali waktu kamu memang salah. Jalanin dua minggu, lihat apa yang berubah.

Yang gue pelajari dari bertahun-tahun ngurus anak sambil kerja di kota yang nggak pernah tidur: hubungan keluarga itu dibangun dari hal-hal kecil yang diulang, bukan dari momen besar yang jarang. Dan kesalahan pola asuh paling berbahaya bukan yang besar dan dramatis, tapi yang kita lakuin tiap hari tanpa sadar.

Jadi besok pagi, waktu ribut soal sepatu itu datang lagi, coba tarik napas dulu. Mungkin yang anak kamu butuhin bukan teriakan, tapi kamu yang duduk sebentar dan bantu nyariin sepatu itu bareng-bareng.

Tags: pola asuh kesalahan orang tua keluarga kecil parenting perkotaan hubungan keluarga